CINTAKU DI PANTAI BADUR
(Benny Can)
Terbukanya
mata dan terbangun dari mimpi-mimpi bertabur kenangan. Anganku berlari dan
mulai teringat, mengingat semua bahawa ini nyata. Terbentang jalan penuh sepih
yang akan tertempuh tanpa dirinya menemani. Mencoba untuk mengerti, mungkin ini
adalah cerita sepintas dan meyakinkan bahawa cinta itu masih ada.
Cinta kuatkan aku tak terpuruk,
walau tersadari tanpa kehadirannya menjadikan lelah. Tak untuk dikira seberapa besar rindu yang mengalah, tanpanya
tertinggal langkah hingga jatuhnya air mata adalah
sedihku. Hati
tak bisa bersembunyi dari sepi bila hanya ada bui menemani, mencoba melawan
ragu bila rapu menguat di setiap sepi tanpa tepi dan mencoba tetap bertahan
walau emosi menegur rindu.
“Tuhan, jagalah dirinya karena aku
cemburu. Aku tak mampu berpura di sini selalu merasa memiliki, menyentuhnya
adalah keindahan, bersamanya adalah kebahagian. Tuhan, aku cemburu dan aku
merasakan rindu,” kataku sambil berbaring dan setelah itu bangkit, mengambil
dan memandangi fotonya. “Kemana kau pergi cinta? Jemariku menghitung
sudah sepuluh hari tanpa sapamu. Di sini tak mampuku berpura menipu rasa bila
harus sendri menutup hari. Aku tak mampu menulis cerita tanpamu memberi warna,
karena dirimulah warna hidupku dan takkan merasa indah bila tanpa sentuhmu.”
Aku
yang tak mau larut dalam sedih, keluar dari kamar mengambil motor untuk
menyusuri jalan dan mengarahka motor menuju Patai Badur (Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep). Sesampainya, aku
memilih duduk di bawah pohon cemarah udang beralaskan pasir dengan pemandangan
laut lepas dan ombak yang mendebur berkejaran.
Sejauh
memandang adalah keindahan, pantai berpagar cemarah udang dan sungai kecil
melintasi pasir. Aku menyebut ini adalah Pantai kenangan, karena disini pertama
kali aku dengan Ratna berkenalan dan memuli cinta, sehingga bayangannya terus
membayangi pandanganku dan aku hanya bisa membiarkan bayangannya yang berkuasa.
Tersiksa, tapi inilah cinta yang tak mampu mengelak dari kenangan.
Setelah
puas memandang, aku berjalan menuju sungai kecil, duduk dan menyentuh jerni air
tawar yang mengalir. “Tuhan, aku merasa iri. Dengan kuasaMu Engkau ciptakan
Pantai Badur ini dengan tertata indah. Tapi, mengapa Engkau tak ciptakah
keindahan dari cinta yang aku rasakan dengannya. Tuhan, salahkah aku bila berucap,
ini tak adail. Mengapa Engkau tak satukan cintaku sementara Engkau satukan air
tawar dan air laut?”
Membiarkan
air mata terjatuh, menundukkan kepala dan memejamkan mata dengan menutup wajah
ini dengan kedua tangan.”Tak adi, ini tak adil, tak adil,” teriakku seolah tak
acuh pada orang yang berlalu lalang dan membiarkan butiran pasir berterbangan
menyetuh badan seiring angin menghempaskannya.
Panas
yang terasa menandakan matahari mulai jauh meninggalkan timur, akupun putuskan
untuk pulang. Sesampainya di parkiran aku melihat Pak Budi bapak Ratna di dalam
mobil, aku menghampirinya. “Assalamu’alaikum. Ada dimana Ratna Pak?” tanyaku.
“Waalaikumsalam.
Itu Ratna dan Rudi,” katanya sambil menunjuk.
Aku
tercengang takkalah melihat ratna menaiki kursi roda dan di dorong supirnya.
“Apa yang terjadi dengan Ratna?” tanyaku.
“Sepuluh
hari yang lalu dia kecelakaan dengan motornya saat pulang kuliah, kedua kakinya
patah dan yang sebelah kiri diamputasi. Oya, maafkan Bapak tidak memberitahukan
kejadian ini karena Ratna yang meminta untuk merahasikan dari kamu,” jawabnya.
Terdiam
sesaat dan tak percaya akan kenyataan, aku menatap pasrah dan menghampiri
Ratna. Aku menepuk bahu Pak Rudi dan sesegerah menutup mulutnya dengan jariku
mengisyaratkan untuk tak memberitahukan aku yang datang dan aku menggantikannya
mendorong kursi rodanya. “Ke
sana Pak,” kata Ratna sambil menunjuk, meminta untuk di dorong mendekati ombak
dan akupun mendorongnya.
“Pak
Rudi, alasanku diantararkan ke tempai ini karena ini adalah Pantai Kenangan.
Aku dan Jaka dipertemukan di sini, aku memulai cinta dan rindu juga di sini.
Tapi, untuk sekarang aku hanya mampu berharap dengan sepuluh hari tak
menghubunginya dia sudah bisa membenci dan melupakanku karena aku tak pantas
lagi bersanding dengannya,” katanya.
“Kamu
salah,” kataku dan sesaat itu dia mengenali suaraku, menoleh dan terpaku dia
menatap, seakan tak percaya aku di belakang yang mendorong kursi rodahnya. “Kamu pasti merasakan rindu hingga
meminta diatarkan ke sini.”
“Kamu,”
terdiam sesaat “Mana Pak Rudi?” tanyanya.
Aku
memilih berlutut dihadapannya dan memegang tangannya, “Sudahlah, aku sudah tahu
semunya. Cobalah mengerti dan tak harus kau bohongi perasaanmu. Aku tahu kamu
masih mencintaiku dan akupun demikian. Jangan tinggalkan aku lagi karena aku
mencintaimu sepenuh hati.”
“Tapi, aku.”
“Mengertilah,
cinta ini tak bersyarat dan hanya dirimu yang selalu difikiranku dan tak mungkin
tergantikan karena takkan ada dan tak perna ada, hanya dirimu satu tapa dua
untukku menduakannya. Cinta ini sudah terikat dan takkan terlepas kecuali
kehendak Tuhan dan keinginanku untuk menamatkan cinta bersamamu,” tegasku
meyakinkannya.
“Jaka,
aku bukan yang duluh lagi, aku tak sempurna dan aku takkan mampu mengikuti
jejakmu,” katanya sambil menangis.
“Apa
gunanya tangan dan kaki ini, aku akan merangkul dan membawamu kemana kamu mau
pergi, karena kamu adalah pembimbing di setiap langkahku. Ratna, jiwa dan hati
adalah untukmu dan jangan ragukan karena kamulah tujuan hidupku,” rayuku sambil
mengusap air matanya.
Senyum
terlihat dari paras cantiknya menandakan raut bahagia. “Aduh,” katanya, seakan
terlupa keadaannya berusaha untuk berdiri. “Jangan berdiri duluh, emangnya mau
kemana?” tanyaku. “Aku ingin memelukmu,” akupun memeluknya dengan perasaan
bahagia.
Tepuk
tangan terdengar dan kita segerah melapaskan pelukan. “Maaf ganggu dulu. Ratna,
kamu puas-puasin di Pantai Badur ini dengan Jaka, aku pulang duluan dengan
Rudi” kata bapak Ratna. “Oya, Jaka kunci motormu mana? nanti kamu dan Ratna
pulangnnya naik mobil, biar aku yang bawa motormu,” tambahnya dan akupun
memberikan kunci motor begitupun bapaknya memberikan kunci mobilnya.
Dengan
perasaan bahagia kita melanjutkan menikmati keindahan Pantai Badur dengan
mendorong kursi rodahnya melewati menyusuri tepian ombak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar