Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

CINTAKU DI PANTAI BADUR - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 10 November 2013



CINTAKU DI PANTAI BADUR
(Benny Can)

Terbukanya mata dan terbangun dari mimpi-mimpi bertabur kenangan. Anganku berlari dan mulai teringat, mengingat semua bahawa ini nyata. Terbentang jalan penuh sepih yang akan tertempuh tanpa dirinya menemani. Mencoba untuk mengerti, mungkin ini adalah cerita sepintas dan meyakinkan bahawa cinta itu masih ada.
Cinta kuatkan aku tak terpuruk, walau tersadari tanpa kehadirannya menjadikan lelah. Tak untuk dikira seberapa besar rindu yang mengalah, tanpanya tertinggal langkah hingga jatuhnya air mata adalah sedihku. Hati tak bisa bersembunyi dari sepi bila hanya ada bui menemani, mencoba melawan ragu bila rapu menguat di setiap sepi tanpa tepi dan mencoba tetap bertahan walau emosi menegur rindu.
“Tuhan, jagalah dirinya karena aku cemburu. Aku tak mampu berpura di sini selalu merasa memiliki, menyentuhnya adalah keindahan, bersamanya adalah kebahagian. Tuhan, aku cemburu dan aku merasakan rindu,” kataku sambil berbaring dan setelah itu bangkit, mengambil dan memandangi fotonya. “Kemana kau pergi cinta? Jemariku menghitung sudah sepuluh hari tanpa sapamu. Di sini tak mampuku berpura menipu rasa bila harus sendri menutup hari. Aku tak mampu menulis cerita tanpamu memberi warna, karena dirimulah warna hidupku dan takkan merasa indah bila tanpa sentuhmu.” 
Aku yang tak mau larut dalam sedih, keluar dari kamar mengambil motor untuk menyusuri jalan dan mengarahka motor menuju Patai Badur (Kecamatan Batang-Batang Kabupaten Sumenep). Sesampainya, aku memilih duduk di bawah pohon cemarah udang beralaskan pasir dengan pemandangan laut lepas dan ombak yang mendebur berkejaran.
Sejauh memandang adalah keindahan, pantai berpagar cemarah udang dan sungai kecil melintasi pasir. Aku menyebut ini adalah Pantai kenangan, karena disini pertama kali aku dengan Ratna berkenalan dan memuli cinta, sehingga bayangannya terus membayangi pandanganku dan aku hanya bisa membiarkan bayangannya yang berkuasa. Tersiksa, tapi inilah cinta yang tak mampu mengelak dari kenangan.
Setelah puas memandang, aku berjalan menuju sungai kecil, duduk dan menyentuh jerni air tawar yang mengalir. “Tuhan, aku merasa iri. Dengan kuasaMu Engkau ciptakan Pantai Badur ini dengan tertata indah. Tapi, mengapa Engkau tak ciptakah keindahan dari cinta yang aku rasakan dengannya. Tuhan, salahkah aku bila berucap, ini tak adail. Mengapa Engkau tak satukan cintaku sementara Engkau satukan air tawar dan air laut?”
Membiarkan air mata terjatuh, menundukkan kepala dan memejamkan mata dengan menutup wajah ini dengan kedua tangan.”Tak adi, ini tak adil, tak adil,” teriakku seolah tak acuh pada orang yang berlalu lalang dan membiarkan butiran pasir berterbangan menyetuh badan seiring angin menghempaskannya.
Panas yang terasa menandakan matahari mulai jauh meninggalkan timur, akupun putuskan untuk pulang. Sesampainya di parkiran aku melihat Pak Budi bapak Ratna di dalam mobil, aku menghampirinya. “Assalamu’alaikum. Ada dimana Ratna Pak?” tanyaku.
“Waalaikumsalam. Itu Ratna dan Rudi,” katanya sambil menunjuk.
Aku tercengang takkalah melihat ratna menaiki kursi roda dan di dorong supirnya. “Apa yang terjadi dengan Ratna?” tanyaku.
“Sepuluh hari yang lalu dia kecelakaan dengan motornya saat pulang kuliah, kedua kakinya patah dan yang sebelah kiri diamputasi. Oya, maafkan Bapak tidak memberitahukan kejadian ini karena Ratna yang meminta untuk merahasikan dari kamu,” jawabnya.
Terdiam sesaat dan tak percaya akan kenyataan, aku menatap pasrah dan menghampiri Ratna. Aku menepuk bahu Pak Rudi dan sesegerah menutup mulutnya dengan jariku mengisyaratkan untuk tak memberitahukan aku yang datang dan aku menggantikannya mendorong kursi rodanya. “Ke sana Pak,” kata Ratna sambil menunjuk, meminta untuk di dorong mendekati ombak dan akupun mendorongnya.
“Pak Rudi, alasanku diantararkan ke tempai ini karena ini adalah Pantai Kenangan. Aku dan Jaka dipertemukan di sini, aku memulai cinta dan rindu juga di sini. Tapi, untuk sekarang aku hanya mampu berharap dengan sepuluh hari tak menghubunginya dia sudah bisa membenci dan melupakanku karena aku tak pantas lagi bersanding dengannya,” katanya.
“Kamu salah,” kataku dan sesaat itu dia mengenali suaraku, menoleh dan terpaku dia menatap, seakan tak percaya aku di belakang yang mendorong kursi rodahnya. “Kamu pasti merasakan rindu hingga meminta diatarkan ke sini.”
“Kamu,” terdiam sesaat “Mana Pak Rudi?” tanyanya.
Aku memilih berlutut dihadapannya dan memegang tangannya, “Sudahlah, aku sudah tahu semunya. Cobalah mengerti dan tak harus kau bohongi perasaanmu. Aku tahu kamu masih mencintaiku dan akupun demikian. Jangan tinggalkan aku lagi karena aku mencintaimu sepenuh hati.”
 “Tapi, aku.”
“Mengertilah, cinta ini tak bersyarat dan hanya dirimu yang selalu difikiranku dan tak mungkin tergantikan karena takkan ada dan tak perna ada, hanya dirimu satu tapa dua untukku menduakannya. Cinta ini sudah terikat dan takkan terlepas kecuali kehendak Tuhan dan keinginanku untuk menamatkan cinta bersamamu,” tegasku meyakinkannya.
“Jaka, aku bukan yang duluh lagi, aku tak sempurna dan aku takkan mampu mengikuti jejakmu,” katanya sambil menangis.
“Apa gunanya tangan dan kaki ini, aku akan merangkul dan membawamu kemana kamu mau pergi, karena kamu adalah pembimbing di setiap langkahku. Ratna, jiwa dan hati adalah untukmu dan jangan ragukan karena kamulah tujuan hidupku,” rayuku sambil mengusap air matanya.
Senyum terlihat dari paras cantiknya menandakan raut bahagia. “Aduh,” katanya, seakan terlupa keadaannya berusaha untuk berdiri. “Jangan berdiri duluh, emangnya mau kemana?” tanyaku. “Aku ingin memelukmu,” akupun memeluknya dengan perasaan bahagia.
Tepuk tangan terdengar dan kita segerah melapaskan pelukan. “Maaf ganggu dulu. Ratna, kamu puas-puasin di Pantai Badur ini dengan Jaka, aku pulang duluan dengan Rudi” kata bapak Ratna. “Oya, Jaka kunci motormu mana? nanti kamu dan Ratna pulangnnya naik mobil, biar aku yang bawa motormu,” tambahnya dan akupun memberikan kunci motor begitupun bapaknya memberikan kunci mobilnya.
Dengan perasaan bahagia kita melanjutkan menikmati keindahan Pantai Badur dengan mendorong kursi rodahnya melewati menyusuri tepian ombak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar